Mengamati Pengaruh HIV pada Kesuburan Pria

Pada milenium ini penyakit AIDS merupakan ancaman kehidupan bagi miliaran manusia dikarenakan jumlah penderitanya yang semakin meningkat tapi pengobatannya belum terjangkau oleh semua lapisan masyarakat terutama di negara-negara berkembang.

Infeksi HIV di Indonesia sudah merupakan masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Menurut Dirjen P2MPLP Depkes RI, secara akumulatif sejak April 1987 sampai Maret 2004, tercatat 4.159 kasus HIV/AIDS di Indonesia. Dari kasus tersebut 2.746 adalah HIV, 1.413 AIDS, serta 493 lainnya meninggal dunia. Menurut data Menteri Kesehatan RI jumlah kasus infeksi HIV/AIDS di negeri kita sampai akhir Desember 2002 sekitar 80.000 sampai 120.000 kasus [1, 2].

Penyakit AIDS disebabkan oleh infeksi virus HIV, yaitu sejenis lentivirus dalam famili retrovirus.  Ada dua jenis virus HIV yang menginfeksi manusia, yaitu: virus HIV tipe1 (HIV-1) dan virus HIV tipe 2 (HIV-2).  HIV-1 paling banyak ditemukan pada kasus AIDS di dunia [3]. HIV-1 dapat ditularkan melalui hubungan seksual, sehingga perhatian terhadap penyakit AIDS sangat besar terutama pada pasangan pengidap HIV yang memilih meneruskan keinginan bereproduksi [4].

Namun bagaimana pengaruh HIV terhadap fertilitas atau kemampuan bereproduksi kini masih terus diteliti.  Pembahasan dalam tulisan ini berkisar pada penelitian-penelitian yang berkaitan dengan pengaruh HIV terhadap fertilitas atau kemampuan reproduksi pada pria [4].

Pengaruh HIV dan Kesuburan Pria

Pada pria, HIV dapat menyebabkan kerusakan yang progresif pada morfologi dan fungsi sperma. Seiring keparahan penyakit, kuantitas dan kualitas sperma akan semakin menurun [4]. Hal tersebut disebabkan karena pada pria pengidap AIDS ditemukan beberapa perubahan histologi pada testes, antara lain: hipospermatogenesis, spermatogenic arrest dan sindroma “sertoli-only” di mana gambaran membran basal tubular dan atrofi serta fibrosis kelenjar peritubular [5].

Kelainan endokrin juga terjadi akibat infeksi HIV. Pada awal infeksi HIV, kadar testosteron bebas dan testoteron total ada yang normal, namun pada beberapa kasus kadarnya justru tinggi, sedangkan pada penderita AIDS kadar testosteronnya jadi rendah.  Kadar testosteron rendah ini merupakan indikator hipogonadisme yang biasa terjadi pada penyakit AIDS. Penyebab hipogonadisme tersebut diduga berasal dari HIV yang mungkin menginfeksi aksis hipotalamus-hipofisis, walaupun pada beberapa penelitian dikemukakan bahwa tidak ada anomali signifikan pada aksis hipotalamus-hipofisis.

Infeksi hipotalamus-hipofisis tersebut menyebabkan terjadinya disfungsi produksi GnRH dan kadar testoteron yang rendah. Kadar testoteron yang rendah tersebut juga disertai kadar serum FSH dan LH yang tinggi, keadaan tersebut merupakan kegagalan testikular primer. Penjelasan yang memungkinkan dari penurunan produksi testoteron tersebut adalah bahwa akibat adanya pelepasan sitokin oleh sel-sel fagosit yang teraktivasi menyebabkan penghambatan aktivitas steorodogenik pembentukan hormon testoteron oleh rangsangan dari LH [5, 6].

Kadar testosteron yang rendah mempunyai dampak pada penurunan berat badan dan massa otot pada penderita AIDS. Bukan hanya itu, penurunan libido dan impotensi juga terjadi akibat kadar testosteron yang rendah tersebut. Dalam penelitian lain dilaporkan juga bahwa ginekomastia pada laki-laki yang terinfeksi HIV juga berhubungan dengan kadar testoteron yang rendah.

Ginekomastia juga terjadi pada penderita HIV yang diterapi dengan HAART, dimana HIV protease inhibitornya terlihat menghambat sitokrom P450 3A4 yang memediasi metabolisme testosteron di hati. Penghentian penggunaan HAART yang mengandung protease inhibitor dapat mengurangi sampai menghilangkan gejala ginekomastia. Oleh sebab itu terapi terhadap pengidap HIV perlu secara sistematis dievaluasi dengan memperhatikan aspek fungsi reproduksi dan kesuburan [5, 6].

Infeksi HIV Terhadap Reproduksi Pria

A. Keberadaan HIV pada Plasma Semen Manusia

Parameter kesuburan seorang pria biasanya ditentukan oleh kuantitas dan kualitas spermanya. Pada awal infeksi HIV, dari analisa semennya, jumlah dan morfologi sperma pengidap HIV normal. Namun pada tahap lebih lanjut dari infeksi HIV, jumlah sperma menurun dan abnormalitas spermanya semakin meningkat bila dibandingkan dengan orang yang tidak mengidap HIV.    Penyebab terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas sperma tersebut dapat kita ketahui melalui bagaimana mekanisme infeksi virus HIV pada saluran reproduksi pria [5, 6].

Keberadaan virus tersebut pada semen dapat diisolasi dari fraksi sel mononuklear lekosit semen pria yang sedang dalam proses perkembangan penyakit. Virus HIV-1 ini dapat dideteksi pada cairan seminal yang bebas sel pada penderita AIDS dan pengidap HIV positif. Keberadaan virus pada lokasi tersebut dapat menimbulkan suatu dugaan bahwa sel-sel epitel epididimis terinfeksi virus HIV dan melepaskan virus tersebut pada cairan epididimis, lalu prostat dan vesikel seminalis juga berperan menampung sementara virus tersebut untuk kemudian dilepaskan ke cairan semen.  Keberadaan virus tersebut pada semen bisa terlihat pada keberadaan makrofag dan limfosit pada semen yang merupakan target sasaran dari HIV [6].

Pada suatu penelitian dikatakan bahwa kandungan virus tertinggi pada semen dapat dilihat pada jumlah CD4 dalam darah pada jaringan perifer kurang dari 200/ul sehingga peningkatan kandungan virus di semen dan di darah akan semakin menurunkan kandungan sel-sel CD4, walaupun pada penelitian yang lain dilaporkan korelasi kebalikan antara jumlah CD4 di darah dan kandungan virus di plasma semen sangat lemah [7, 8].

Secara umum sebagian besar penelitian pada semen menampakkan adanya hubungan yang lemah walaupun signifikan antara kandungan virus HIV dalam darah dan konsentrasi HIV-RNA pada semen [9]. Pada penelitian yang lain ditunjukkan bahwa bukan HIV RNA pada semen yang berhubungan dengan jumlah lekosit pada semen melainkan provirus HIV-1 DNA. Korelasi antara kandungan virus HIV pada plasma darah dengan pada plasma semen merupakan isu yang kontroversial yang harus terus dikaji. Pada sebagian pasien kandungan virus HIV di semen lebih rendah daripada di darah, sedangkan pada sebagian pasien yang lain justru sebaliknya kandungan virus HIV di semen signifikan lebih tinggi daripada di darah [8.9].

Kemungkinan keberadaan virus HIV pada semen mengindikasikan bahwa semen sebagai salah satu sumber penularan atau transmisi tanpa proses reaksi inflamasi lokal [9]. Keadaan tersebut menjadi masalah yang serius sebab seorang pria pengidap HIV yang ingin mempunyai keturunan melalui hubungan seksual dengan pasangannya yang tidak terinfeksi HIV mempunyai resiko penularan 1 dibanding 500 [10]. Beberapa literatur mengatakan bahwa pencucian sperma (sperm washing) baik menggunakan “semen washing on a density gradient” maupun metode swim-up processing after Percoll gradient centrifugation dapat mengurangi resiko transmisi virus HIV dari pria yang terinfeksi ke wanita yang tidak terinfeksi.

Namun resiko penularan ternyata masih mungkin terjadi karena beberapa penelitian yang lain juga menyatakan bahwa virus mungkin masih bisa ditemukan pada fraksi sperma motil yang mungkin dikarenakan virus HIV juga menginfeksi sel-sel germinal dan/atau terikat pada spermatozoa.  Keberadaan sel-sel yang terinfeksi virus HIV pada spermatozoa mungkin dapat dibuktikan melalui beberapa studi mikroskopis dan immunocytochemistry yang menemukan bukti bahwa HIV-1 dapat terikat ke spermatozoa. Namun demikian, belum jelas bagaimana virus tersebut melakukan penetrasi dan replikasi di dalam sel-sel spermatozoa tersebut [6], [10-12].

Melalui beberapa studi mekanisme penetrasi HIV-1 pada sel-sel spermatozoa diduga melalui molekul glikolipid yang berperan sebagai reseptor HIV pada membran sel sprematozoa dan diduga juga terlibat dalam transmisi virus tersebut. HIV melakukan penetrasi ke dalam sel spermatozoa tanpa berintegrasi dan bereplikasi di dalam sel-sel tersebut. Faktor yang menghambat terjadinya replikasi tersebut belum diketahui. Dengan kenyataan tersebut dapat dikatakan bahwa spermatozoa bukan merupakan sumber HIV di semen yang signifikan [6, 13].

Melalui perbandingan sekuens HIV-1 di testis dengan di prostat memperlihatkan perbedaan populasi HIV-1 pada kedua kompartemen jaringan tersebut.  HIV-1 pada plasma semen berasal dari prostat, sedangkan HIV-1 yang menginfeksi sel-sel di semen berasal dari rete testis dan epididimis.  Keberadaan virus HIV-1 pada prostat dapat diseteksi melaui ditemukannya protein HIV-1 pada daerah pertautan sel-sel epitel gandular di prostat.  Namun pada studi PCR di epitelium prostat tidak ditemukan adanya nukleus virus tetapi beberapa makrofag yang terinfeksi virus dapat teramati [6,13].

B. Infeksi HIV pada Testis

Kerusakan pada proses spermatogenesis sampai terjadinya penghentian spermatogenesis, kejadian atropi dan fibrosis, serta kerusakan lainnya pada testis mengindikasikan terjadinya infeksi HIV pada testis yang mengakibatkan infertilitas. Infeksi HIV tersebut dapat teramati dengan adanya protein HIV p17 melalui imunohistokimia menggunakan monoklonal antibodi.  Melalui penelitian Pudney dan Anderson terdeteksi adanya reseptor CD4 pada permukaan limfosit dan makrofag yang menginfiltrasi testis di tubulus seminiferus dan intersisium, sel-sel tersebut berpotensi untuk terinfeksi HIV [6,13].

Melalui studi PCR, HIV-1 juga ditemukan dalam 1:100 spermatid yang terkandung di semen dan melalui studi imunohistokemikal juga ditemukan protein HIV-1 pada sel-sel germinal walaupun jarang. Melalui studi yang lain ditemukan juga adanya DNA HIV-1 pada sel-sel germinal pada tiap tahap-tahap diferensiasi. Jalan masuknya HIV ke sel-sel germinal belum diketahui pasti.

Keberadaan reseptor CD4 belum benar-benar terdeteksi pada permukaan sel-sel germinal, tidak seperti pada spermatozoa yang terinfeksi HIV, dimana pada permukaan selnya dapat dideteksi adanya reseptor CD4.  Demikian pula reseptor chemokin yang mentriger masuknya HIV pada tipe sel-sel seperti: makrofag, limfosit, mikrogial, tidak ditemukan pula pada sel-sel germinal.  Diduga masuknya HIV ke sel-sel germinal melalui reseptor alternatif galaktogliserolipid [6, 13].

Melalui studi PCR, DNA virus juga ditemukan pada spermatogonia dan progeninya. Infeksi virus tersebut ditandai dengan produksi genom dan transkripsi virus yang terpotong secara multiplikasi yang ditunjukkan oleh reserve transcription in situ PCR.  Yang menarik dari penemuan-penemuan tersebut adalah persentase HIV-1 di spermatid lebih rendah dibanding dengan HIV-1 pada spermatogonia dan spermatosit primer.

Hal tersebut terjadi diduga akibat adanya degradasi sel yang menyertai akhir proses spermatogenesis. Namun keberadaan provirus tidak menyebabkan kerusakan sel dan juga tidak mengganggu proses spermatogenesisnya. Keadaan tersebut bertolak belakang dengan penderita AIDS dimana proses spermatogenesisnya terhenti dan beberapa sel spermatogonia dan spermatositnya terinfeksi [6, 13].

Kesimpulan

Dari penelitian-penelitian diketahui bahwa HIV dapat mempengaruhi kemampuan bereproduksi karena ditemukan beberapa indikator yang berperan menyebabkan infertilitas pada pria, antara lain: penurunan jumlah spermatozoa, abnormalitas spermatozoa meningkat, berhentinya proses spermatogenesis, sindroma cell sertoli only, kelainan fungsi endokrin, atrofi dan fibrosis testis.  Keberadaan virus tersebut juga ditemukan pada plasma semen dan sel-sel sperma pada berbagai tahapan diferensiasi yang berperan pada penularan virus ini melalui hubungan seksual. Namun penelitian-penelitian yang ada belum dengan tegas menyebutkan bagaimana mekanisme virus tersebut dapat menginfeksi organ reproduksi pria sehingga menimbulkan gejala infertilitas.

Daftar Pustaka

1. Djauzi S, Djoerban Z.  Penatalaksanaan Infeksi HIV di Pelayanan Kesehatan Dasar.  Ed. 2.  Fakultas Kedokteran UI. 2003.

2. Subdit PMS& AIDS Ditjen PPM&PL Depkes RI. Kasus HIV di Indonesia . Majalah Support . Yayasan Pelita Ilmu. 2004;No.64.

3. Burger H, Weiser B.  Biology of HIV-1 in Women and Men.  J Clinical Obstetrics and Gynecology. 2001;Vol 44:137-143.

4. Setel p.  The Effects of HIV and AIDS on fertility in East and Central Africa.  Health Transition Review, Supplement to V.5; 1995: 179-189.

5. Lo J, Schambelan M.  Reproductive Function in Human Immunodeficiency Virus Infection.  J Clin. Endocrinology and Metabolism. 2001;vol 86:1-13.

6. Dejucq N, Jgou B.  Viruses in the Mammalian Male Genital Tract and Their   Effects on the Reproductive System.  Microbiology and Molecular Biology Reviews(MMBR), 2001;vol 65.2:208-231.

7. Quayle AJ, Coston WMP, Trocha AK, Kalams SA, Mayer KH, Anderson DJ.  Detection of HIV-1-Specific CTLs in the Semen of HIV-Infected Individuals.  The journal of Immunology. 1998; vol 161:4406-4410.

8. Pinto-Neto LFS, Vieira NFR, Soprani M, Cunha CB, Dietze R, Ribeiro-Rodrigues R.  Lack of Correlation between Seminal and Plasma HIV-1 Viral Loads is Associated with CD4 T Cell Depletion in Therapy-naïve HIV-1+ Patients.  Mem Inst Oswaldo Cruz. 2002; vol 97(4):563-567.

9. Vernazza PL, St.Gallen K.  Biological correlates of sexual transmission of HIV: Practical consequences and potential targets for public health.

10. Pasquier C, Daudin M, Righi L, Berges L, Thauvin L, Berrebi A, Massip P, Puel J, Bujan L, Izopet J.  Sperm washing and virus nucleic acid detection to reduce HIV and hepatitis C virus transmission in serodiscordant couples wishing to have children.  AIDS. 2000; 14(14): 2093-9.

11. Bujan L, Daudin M, Alvarez M, Massip P, Puel J, Pasquier C.  Intermittent human Immunodeficiency type 1 virus (HIV-1) shedding in semen and efficiency of sperm processing despite high seminal HIV-1 RNA levels.  Fertil Steril.  2002; 78(6): 1321-3. [Abstract]

12. Leruez-Ville M, Almeida M De, Tachet A, Dulioust E, Guilbert J, Mandelbrot L, Salmon D, Jouannet P, Rouzioux C.  Assisted reproduction in HIV-1-serodifferent couples: the need for viral validation of processed semen.  AIDS.  2002; 16(17): 2267-73.  [Abstract]

13. Nuovo GJ, Becker J, Simsir A, Margiotta M, Khalife G, Shevchuk M.  Short Communication : HIV-1 Nucleic Acids Localize to the Spermatogonia and their Progeny.  A Study by Polymerase Chain Reaction In Situ Hybridization.  American Journal of Pathology. 1994.  Vol 144(6):1142-1148.
Hadhimulya Asmara, Mahasiswa Program Doktor pada Program Studi Ilmu Biomedik bidang Fisiologi di Graduate School of Medicine and Dental Sciences Kagoshima University, Japan

1 Response to “Mengamati Pengaruh HIV pada Kesuburan Pria”



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




IP

Jakarta

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Klik tertinggi

  • None

Blog Stats

  • 451,470 hits

%d bloggers like this: