Trichomoniasis, PMS Pendamping Gonorrhoea

DALAM sepuluh ahun terakhir ini, ilmu kedokteran mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bagi dunia kesehatan merupakan suatu kabar gembira, karena angka kematian di dunia yang disebabkan oleh suatu penyakit berpeluang untuk ditekan.

Ironisnya perkembangan pada ilmu kedokteran itu bak pedang bermata dua. Di satu sisi berpeluang untuk mengetahui secara dini atas gejala suatu penyakit. Sehingga dapat segera dilakukan pengobatan secepatnya. Sebaliknya akibat perkembangan ilmu kedokteran itu, maka berbagai penyakit jenis baru menjadi tertemukan. Tidak jarang, obat untuk penyembuhnya sampai detik ini masih dalam tahap penelitian.

Gara-gara perkembangan ilmu kedokteran itulah, maka pada delapan tahun terakhir ini berhasil ditemukan penyakit menular seksual jenis baru. Nama penyakit itu Trichomoniasis alias “trich”, yang disebabkan oleh infeksi parasit. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, baik pria atau wanita. Keunikannya sasaran infeksi pada masing-masig jenis manusia berbeda. Pada pria tanda-tandanya muncul pada uretra (saluran yang mengalirkan urine ke luar tubuh), sementara kaum hawa yang terkena vagina dan serviks (leher rahim). Penyakit ini kerap terjadi bersamaan dengan penyakit menular seksual lainnya, seperti gonorrhea dan nongonococcal urethritis (chlamydia), khususnya pada perempuan.

Penyebab trichomoniasis adalah parasit Trichomonas Vaginalis, yang ditularkan khususnya melalui kontak seksual secara langsung. Namun, juga dapat ditularkan melalui mutual masturbation dan berbagai sex toys (alat bantuk seks)

Kendati demikian, pria yang terinfeksi parasit ini tidak akan merasakan gejala apapun. Sehingga ia dapat menularkan ke pasangannya (perempuan) tanpa disadari. Kemungkinan kondisi yang sama juga berpeluang dialami wanita. Namun bagi penderita yang berfisik lemah, gejala umumnya muncul 4 s/d 20 hari pasca infeksi. Perempuan yang terinfeksi akan mengeluarkan cairan dari vagina berwarna kuning kehijauan atau abu-abu serta berbusa dalam jumlah banyak, kadangkala disertai pendarahan dan bau tidak sedap, gatal pada vulva sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Selain itu, penderita akan sering buang air kecil yang disertai rasa sakit, pembengkakan vulva, rasa tidak nyaman selama berhubungan seksual dan sakit di wilayah perut. Pendarahan di serviks kemungkinan dapat terjadi, meski hal ini bukan gejala umum.

Hal sebaliknya terjadi pada penderita pria. Penderita jarang menunjukkan gejala. Satu-satunya gejala yang bisa diprediksi mulai terinfeksi adalah keluhan cairan berwarna putih pucat dari fanis disertai rasa sakit. Atau kesulitan ketika buang air kecil. Meski tak dapat terdeteksi secara langsung, tapi infeksi trichomoniasis yang tidak ditangani secara tuntas berpeluang untuk terinfeksi HIV (virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang akan berkembang menjadi AIDS). Sedangkan bagi wanita hamil yang terinfeksi berisiko melahirkan bayi prematur, berat badan lahir rendah dan infeksi hingga pelepasan plasenta. Sedangkan peradangan pada prostat (prostatitis) dan saluran kencing (cystitis) kerap dikaitkan dengan trichomoniasis pada laki-laki.

Memang, kasus infeksi trichomoniasis belum ditemukan di Indonesia, negara-negara Asia, Eropa, atau pun Afrika. Kasus infeksi tertinggi baru ditemukan di Amerika Serikat. Dengan asumsi terjadnya 5 juta kasus baru setiap tahunnya, maka 10% penderita wanita disebabkan oleh infeksi trichomoniasis ini. Hal ini berdasar dari daftar kehadiran penderita wanita yang mengobati penyakit menyular seksualnya.

Sekitar tahun 2000, the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan, bahwa trichomoniasis biasanya dapat diobati pada perempuan muda dengan kehidupan seksual aktif. Metode lain yag dapat diandalkan adalah pembiakan sampel cairan vagina atau penis untuk menegakkan diagnosis trichomoniasis. Metode ini diperkirakan butuh waktu 10 hari.

Selain itu, pada kaum wanita juga perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis cairan vagina, pap smear dan urinalysis untuk menegakkan diagnosisnya. Leher rahim juga diperiksa jika terjadi pendarahan. Karena trichomoniasis sering terjadi bersama penyakit menular seksual lainnya, sehingga pasien perlu diperiksa untuk menentukan jenis infeksinya, apakah chlamydia, gonorrhea, syphilis, atau HIV.

Sejah ini metronidazole dikenal sebagai obat yang dapat mengobati trichomoniasis. Obat ini diminum dalam dosis tunggal. Selama masa pengobatan penderita harus menghindari minuman beralkohol, karena reaksi kimia yang ditimbulkan dapat menyebabkan mual dan muntah. Efek samping yang timbul antara lain mual, sakit kepala dan kram bagian perut. Perempuan hamil yang hendak mengonsumsi obat ini harus konsultasi dulu ke dokter.

0 Responses to “Trichomoniasis, PMS Pendamping Gonorrhoea”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




IP

Jakarta

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Klik tertinggi

  • None

Blog Stats

  • 451,470 hits

%d bloggers like this: