Menjawab Masalah Vaksinasi dan Autisme

Di luar berbagai hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan sebab-akibat antara vaksin dan autisme, tetap saja timbul keraguan. Di antaranya adalah pertanyaan-pertanyaan berikut.
Thimerosal

Penggunaan thimerosal, yang berbasis mercury. Thimerosal adalah zat pengawet vaksin. Namun karena mengandung mercury (logam berat), maka banyak memicu protes. Diduga sebagai salah satu pemicu autisme / masalah2 lainnya.

Betul. Thimerosal memiliki kandungan merkuri. Tepatnya adalah etil merkuri. Yang jadi masalah, dasar dugaan bahwa thimerosal berbahaya mengacu pada sifat yang dibawa oleh metil merkuri. Kedua organomerkuri ini berbeda dalam sifat.

Berikut adalah cuplikan tulisan dr. Tonang Ardyanto, Keamanan Thimerosal dalam Vaksin.

Analisis efek toksik thimerosal selama ini didasarkan pada efek metil merkuri, sementara yang terkandung adalah etil merkuri.

Jurnal Toxicological Sciences [[4]] melaporkan konsentrasi thimerosal untuk menimbulkan efek toksik adalah antara 405 µg/l – 101 mg/l atau setara dengan kadar merkuri 201 µg/l – 50 mg/l. Sedang bila dihitung rata-rata, bayi berumur 6 bulan mendapat akumulasi paparan merkuri maksimal dari vaksinasi sebesar 32 – 52 µg/kg berat badan. Pada perhitungan lebih rinci, angka ini hampir 4 kali lipat lebih rendah dari batas minimal tersebut. Tetapi masih belum jelas apakah paparan dosis rendah dalam jangka panjang akan mempengaruhi tingkat toksisitasnya.

Hal ini memperkuat dugaan Magos bahwa etil klorida mulai menimbulkan risiko bila kadar dalam darahnya 1 µg/ml (1000 µg/l)[[13]]. Metil merkuri lebih cepat menimbulkan risiko karena ada mekanisme transmisi aktif difasilitasi oleh suatu asam amino sehingga cepat menembus sawar darah otak (blood bran barrier). Sementara etil merkuri, di samping tidak memiliki mekanisme transmisi aktif tersebut, juga berukuran molekul lebih besar dan didekomposisi lebih cepat daripada metil merkuri [[14]]

Pengembangan vaksin baru tanpa thimerosal mengharuskan penelitian ulang untuk mencari bahan pengganti dengan biaya sekitar 200 – 400 juta dollar. Memang sudah ada pilihan lain seperti 2-phenoxy ethanol, etilen glikol atau formaldehida tetapi efektivitasnya di bawah thimerosal. Sementara kendala lain adalah variasi kemampuan produsen lokal, karena saat ini sudah banyak persentase persediaan vaksin merupakan produk lokal.

Kenyataan bahwa negara seperti Amerika atau Perancis menurunkan bahkan berusaha menghilangkan penggunaan thimerosal, tentu erat terkait dengan kemampuan sistem kesehatan nasional masing-masing untuk melaksanakan program tersebut. Sementara kalau kebijaksanaan ini dipaksakan ke seluruh negara, bisa mengancam kelangsungan program vaksinasi dengan risiko re-epidemi penyakit-penyakit infeksi.

Di Indonesia sendiri, masih mengijinkan peredaran vaksin dengan kadar thimerosal 0,005 – 0,01% karena masih dibawah ambang batas menurut WHO. Juga oleh rekomendasi Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia yang belum mendapatkan bukti-bukti kuat efek merugikan thimerosal dalam vaksin. Hasil inipun diperkuat oleh laporan Clements [[5]] dan Verstraeten et al. [[17]], yang tidak mendapatkan hubungan konsisten antara paparan thimerosal pada vaksin dengan gangguan perkembangan neurologis anak.

Dari Thimerosal in Vaccines (pembaruan tertanggal 25 September 2006).

Thimerosal terurai dalam tubuh menjadi etil merkuri dan tiosalisilat. Mengapa hasil urai ini penting? Karena beberapa sebab berikut (sumber: NIAID (National Institute of Allergy and Infectious Disease) Research on Thimerosal, April 2005):
Merkuri, dalam bentuk metil merkuri (oral, bentuk tetes) dan thimerosal (suntikan, bersama vaksin) langsung diserap dan dihantarkan masuk ke darah dan otak.
Total merkuri (organik dan anorganik) dikeluarkan dari darah dan otak lebih cepat setelah paparan thimerosal ketimbang metil merkuri.
Tingkat merkuri total terukur dalam darah dan otak lebih rendah setelah paparan thimerosal ketimbang metil merkuri.

Merkuri hadir secara alami di lingkungan hidup manusia dalam tiga bentuk: logam murni (seperti yang terdapat di termometer raksa), garam anorganik, dan sebagai senyawa organik turunan (derivat). Sebagian besar merkuri alami berada dalam bentuk logam dan anorganik. Karena merkuri ada di mana-mana, tidaklah mungkin untuk mencegah SEMUA paparan terhadap senyawa ini.

Jadi, di vaksin benar ada thimerosal? Benar.

Lalu tentang ketidakjelasan toksisitas apabila terpapar dalam jangka waktu panjang? Vaksinasi tidak dilakukan setiap hari (bahkan setiap pekan atau setiap bulan) dalam kehidupan manusia sejak bayi hingga dewasa. Benar, vaksin yang mengandung thimerosal kebanyakan adalah jenis multi-dosis.

Lalu kenapa multi-dosis?

Selama ini kemasan multi-dosis lebih disukai karena biaya produksi lebih rendah dan memudahkan manajemen rantai beku (cold-chain management) dalam pelayanan vaksinasi. Hal ini sangat berpengaruh untuk program vaksinasi masal di negara-negara berkembang, dengan cakupan wilayah luas dan tenaga pelaksana beragam.

Yang menarik:Vaksin MMR tidak pernah mengandung thimerosal !
Multiple vaccination

MMR, sebagai triple vaccination, diduga membebani sistim pertahanan tubuh dengan terlalu berlebihan.

Anak-anak terpapar pada banyak antigen (suatu zat yang dapat merangsang reaksi kekebalan) asing setiap harinya. Makanan dapat membawa bakteri baru. Banyak sekali bakteri hidup dalam mulut dan hidung, ‘membuka’ sistem kekebalan tubuh terhadap antigen yang lebih banyak lagi.

Infeksi pernafasan atas akibat virus dapat membuat anak terpapar pada 4-10 antigen, dan radang tenggorokan pada 25-50 antigen. Menurut Adverse Events Associated with Childhood Vaccines, sebuah laporan pada tahun 1994 dari Institute of Medicine, “Pada keadaan normal ini, kecil kemungkinannya sejumlah antigen terpisah yang terkandung dalam vaksin… dapat memperlihatkan beban tambahan yang signifikan terhadap sistem kekebalan yang berakibat pada tertekannya sistem kekebalan.” Nyatanya, data ilmiah yang ada memperlihatkan bahwa vaksinasi simultan dengan vaksin kombo (yang berisi beberapa jenis virus/bakteri) TIDAK memberi efek samping pada sistem kekebalan tubuh anak dalam kondisi normal.

Vaksin kombo tidak akan direkomendasikan oleh berbagai komite/satuan tugas jika tidak terbukti aman DAN efektif. Vaksin kombo tidak kalah efektif dibandingkan dengan vaksin satuan/terpisah dan tidak membawa risiko efek samping yang lebih tinggi.

Bahkan, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan vaksinasi simultan terhadap keseluruhan vaksin bagi anak apabila memungkinkan. Penelitian masih terus berlanjut untuk menemukan cara mengombinasikan lebih banyak antigen dalam satu suntikan saja (misalnya MMR dan varicella, DTaP dan HIB). Ini akan memberi segala keuntungan vaksin terpisah, namun memerlukan jumlah suntikan yang lebih sedikit.

Setidaknya ada dua keuntungan dalam memberikan beberapa vaksin sekaligus pada satu kali imunisasi. Pertama, mengimunisasi anak sedini mungkin dapat melindungi bulan-bulan awal kehidupannya yang sangat rentan. Ini berarti memberikan vaksin non-aktif mulai usia 2 bulan dan vaksin hidup pada usia 12 bulan. Dengan begitu beberapa macam vaksin (terutama yang memerlukan pengulangan, seperti DTaP dan polio) memiliki jangka waktu (pemberian) yang sama.

Kedua, memberikan beberapa vaksin pada satu waktu berarti kunjungan imunisasi yang lebih sedikit. Hal ini dapat sangat membantu orangtua karena menghemat waktu dan uang, juga lebih kurang-traumatis terhadap anak.

Sumber: Misconception about Immunization, More than one vaccine at a time can overload immune system.

Sekadar mengingatkan, vaksin kombo sudah dikenal di Indonesia sejak lama. Misalnya DTaP (Diphtheria, Tetanus toxoid, acellular Pertussis; Frequently Asked Questions about DTaP). Bahkan pemberian DTaP dan polio secara bersamaan sudah lama dipraktikkan oleh bidan. Jadi kekhawatiran bahwa 3 vaksin dalam MMR dapat membebani berlebihan dapat disingkirkan, jika dibandingkan dengan 4 vaksin dalam DTaP + polio. Setidaknya menurut statistik.

Selain itu, imunisasi simultan juga sudah banyak dipraktikkan di sini. Misalnya pemberian DTaP, polio, dan HiB (Haemophilus influenzae type B) sekaligus. Jumlahnya jadi 5 vaksin.

Ya. Tentu saja apabila anak saya tidak apa-apa bukan jaminan 100% bahwa anak lain PASTI juga akan baik-baik saja. Tergantung kondisi kesehatan dan banyak faktor lain. Begitu juga dengan autisme.
Inflammatory bowel disease (IBD)

Makin jelas potensi keterkaitan antara inflammatory bowel disease (IBD) dengan autisme. MMR diduga bisa memicu terjadinya IBD.

“A general term for any disease characterized by inflammation of the bowel. Examples include colitis and Crohn’s disease. Symptoms include abdominal pain, diarrhea, fever, loss of appetite and weight loss”. Istilah umum bagi penyakit yang memiliki kekhasan berupa peradangan usus. Misalnya colitis dan penyakit Crohn. Gejala meliputi sakit perut, diare, demam, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat badan (perbendaharaan istilah, National Immunization Program/NIP).

Dalam artikel Vaccines causes Autism yang telah disebutkan sebelumnya, dinyatakan bahwa masalah autisme diangkat bersamaan dengan IBD. Dan jawabannya sama: tidak terbukti adanya hubungan sebab-akibat secara langsung.
Jumlah penyandang autis

Walaupun tidak semua penerima vaksinasi MMR menjadi penderita autisme, tentu saja tidak berarti bahwa tidak ada masalah. Jika ada sekian persen saja yang tiba-tiba menjadi penderita autis, maka ini perlu diteliti lebih lanjut.

Pada kasus di Inggris, ada peningkatan penderita autis 10 kali lipat setelah diperkenalkannya imunisasi MMR.

‘Setelah’ dalam kalimat tersebut benar jika dilihat dalam kerangka waktu kejadian, tapi belum tentu menggambarkan hubungan sebab-akibat. Jika ini masalah timeline, maka yang berkait tidak hanya vaksin MMR, tapi juga kemajuan teknologi. Tentu tidak pada tempatnya jika kita menempatkan kemajuan teknologi sebagai penyebab autisme.

Bisa saja autisme telah hadir sejak lama, jauh sebelum pemberian vaksin MMR dimasukkan ke jadwal imunisasi. Kenapa tidak muncul berita sejak dulu? Bisa jadi karena perangkat diagnosanya belum ada, jadi masih dikenal sebagai gangguan perkembangan (developmental disorder), belum dengan label autisme.

Lho itu kan baru bisa jadi? Iya. Sama kan dengan kasus MMR? Bisa jadi ada hubungannya. Bisa jadi tidak. Kalau baru sebatas ‘bisa jadi’, semua bisa ‘ditembak’ sebagai penyebab. Toh belum terbukti jelas, ya atau tidaknya.

Ya atau tidak. Ya pun bisa berbentuk persen, tak harus semua. Ruwet? Begini. KALAU. MISALNYA. Benar terbukti MMR menyebabkan autisme, berdasarkan penelitian anu dan penelitian tersebut sah secara ilmiah. Pada kenyataannya, tidak semua anak yang diberi vaksin MMR menjadi autis. Ini adalah contoh ‘ya’, yang punya dasar bukti, yang berbentuk persen.

Penjelasan ini mungkin lebih membantu (masih dari artikel Vaccines causes Autism):

Tanda-tanda autisme pertama kali dapat diamati oleh orangtua pada saat anak mengalami keterlambatan bicara setelah umur satu tahun. Vaksin MMR pertama diberikan pada saat anak berusia antara 12-15 bulan. Karena rentang usia ini JUGA adalah usia saat autisme mulai dapat diamati, TIDAK MENGHERANKAN jika imunisasi MMR berbuntut autisme. Bagaimanapun, sejauh penjelasan logisnya hanyalah KEBETULAN, bukan sebab-akibat.
Vaksin terpisah

Bagaimana solusinya untuk saat ini? Saya kira kita juga tidak ingin anak-anak kita menjadi korban MMR.
Pada saat ini sepertinya yang bisa kita lakukan adalah memvaksinasi secara terpisah 3 kali (bukan digabung), dan memastikan bahwa vaksin-vaksin tersebut tidak menggunakan mercury / zat pengawet berbahaya lainnya.

Ya, vaksin terpisah lebih kecil kemungkinannya memakai pengawet thimerosal.

Bagi yang memang mempertimbangkan dengan serius risiko autisme, vaksinasi terpisah dan/atau di atas usia tertentu bisa jadi pilihan. Sedangkan bila tidak, faktor berikut ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memilih vaksin kombo dan/atau imunisasi simultan:
Mempersingkat rentang jadwal imunisasi. Dalam waktu 9 bulan, imunisasi yang tergolong wajib dan dianjurkan (hingga anak berusia 1 tahun) dapat sudah selesai. Dilanjutkan umur 15 dan 18 bulan, lalu 3 tahun (merujuk ke Jadwal Imunisasi rekomendasi IDAI 2004)
Lebih sedikit suntikan, mengurangi trauma.
Meminimalkan kunjungan ke dokter.
Total biaya (di luar biaya konsultasi dengan dokter) lebih murah.
Lebih awal terlindungi, lebih baik.
Vaksin halal

Bagi yang muslim, saya kira kita juga perlu mulai mempertimbangkan kehalalan vaksin. Saat ini sepertinya hal ini belum banyak disadari.

Baiklah. Saya akui kita memang sangat kekurangan informasi mengenai hal ini. Semoga dalam waktu dekat seluruh vaksin yang dianjurkan (tidak hanya yang diwajibkan) di Indonesia (dan di negara lain) dapat memperoleh sertifikasi halal.

Tentang imunisasi halal ini, suatu kali ada yang melontarkan alamat satu laman imunisasi halal. Sungguh saya berharap. Ternyata isinya… Sebuah rahasia sehat tanpa vaksin (!!!). Menggunakan ekstra nutrisi dan herbal khusus yang memaksimalkan sistem imun. Oh. Baiklah.

Saya menyerah. Karena ternyata Linus Pauling disebut-sebut. Bukan, bukan saya menentang pentingnya kehalalan vaksin. Tapi kehalalan suplemen herba ini dimanfaatkan dalam satu sisi untuk pemelintiran informasi.

Betul. Sistem kekebalan tubuh yang baik akan memastikan kita tidak rentan terinfeksi bakteri, virus, jamur, atau lainnya. Yang harus kita ingat, peran makanan (herbanya dimakan kan?) dan vaksin berbeda.

Makanan memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh. Dan nutrisi yang tercukupi dengan baik (jumlah dan variannya tercukupi) akan membantu memelihara kesehatan tubuh. Mempertahankan kondisi kesehatan tubuh dalam keadaan baik.

Sedangkan vaksin bekerja dengan memberi sepasukan ‘prajurit musuh’ untuk diinterogasi, dikumpulkan informasinya, dibuatkan kumpulan datanya, dan dibangun proyek perlawanannya, berupa pasukan antibodi yang siap mengenali dan melawan prajurit serupa apabila kelak datang menyerang. Kalau tidak datang? Data tetap tersimpan. Tidak rugi.

Maksud saya, kita bicara dua hal yang berbeda! Duh. Lamannya? Cari sendiri saja. Jelas sekali nampak histeria gerakan anti imunisasi.

Sumber (selain yang telah diberikan):
Frequently Asked Questions; Thimerosal in Vaccines.
FAQs dari CDC; Mercury and thimerosal, Thimerosal and vaccines, Availability of thimerosal-free vaccines, References
Daftar vaksin yang mengandung thimerosal (tanggal pembaruan: 16 Oktober 2006).
Rekomendasi berkaitan dengan penggunaan thimerosal dalam vaksin
NIAID supported studies on mercury, thimerosal, and vaccine safety.
Critical review on published data
Autism Information Center (CDC)
Autism and mercury.
MMR and autism. Dari Sp!ked-online. Atau hasil pencariannya di sini.
How harmful are additives and preservatives in childhood vaccines?

0 Responses to “Menjawab Masalah Vaksinasi dan Autisme”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




IP

Jakarta

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Klik tertinggi

  • None

Blog Stats

  • 451,183 hits

%d bloggers like this: