Echinacea Tidak Terbukti Berperan Menyembuhkan Flu

Thomas Caruso, seorang siswa sekolah kedokteran di Stanford University, Amerika Serikat, dalam makalahnya di jurnal Clinical Infectious Diseases mengungkapkan kesalahan-kesalahan fatal dalam studi yang menyatakan bahwa Echinacea menyembuhkan flu.

Ide atas penelitian ini didapat Thomas sewaktu ia melihat ayahnya terkena flu dan mengonsumsi Echinacea untuk mengobatinya. Dalam hatinya Thomas bertanya-tanya apakah bahan yang dibeli oleh begitu banyak orang ini memang efektif untuk mengobati flu.

Pertanyaan ini kemudian mendorong Thomas yang pada waktu itu adalah mahasiswa tingkat tiga jurusan biokimia di University of Virginia, untuk melakukan riset di bawah bimbingan Jack M. Gwaltney Jr., MD, profesor emeritus penyakit dalam di universitas itu. Mereka berdua menelusuri arsip-arsip kedokteran and mengkaji temuan-temuan di dalamnya.

Kesimpulannya? Potensi Echinacea untuk mengobati flu tidak dapat dibuktikan.

Meskipun riset ini bukanlah yang pertama mengkaji khasiat Echinacea, tapi studi ini layak disikapi karena meneliti studi-studi terdahulu mengenai tanaman ini, yang sudah menjadi komoditas tetap di supermarket dan gerai-gerai kesehatan.

Echinacea, tanaman berbunga yang tumbuh di Amerika Serikat bagian tengah dan barat daya telah digunakan sejak berabad-abad lalu oleh suku Indian untuk mengobati berbagai macam sakit. Menurut makalah Thomas, penggunaan Echinacea menurun pada awak abad ke 20 seiring dengan ditemukannya antibiotika, namun popularitasnya kembali menanjak dalam beberapa tahun belakangan ini dengan angka penjualan teh, pil dan droplet Echinacea yang mencapai lebih dari 300 juta dolar AS setiap tahunnya.

Yang mengejutkan Thomas adalah fakta bahwa sangat sedikit penelitian yang dilakukan atas tanaman ini dan hampir semua riset tersebut memiliki kesalahan fatal. Setelah menyusuri database secara ekstensif, ia dan Gwatney hanya menemukan 9 studi yang meneliti efektivitas Echinacea untuk menyembuhkan flu – 6 studi menyimpulkan bahwa Echinacea berguna, sedangkan 3 menyatakan tidak.

Caruso and Gwaltney kemudian mengevaluasi apakah studi-studi tersebut memenuhi 11 kriteria penelitian yang baik dan terkejut begitu menemukan bahwa tidak ada satupun studi yang menyatakan ya memenuhi kriteria tersebut. Hanya 2 dari 3 studi yang menyatakan tidak yang memenuhi. Adapun kriteria yang dipakai meliputi apakah studi tersebut mempunyai hipotesis yang bisa dikuantifikasikan, definisi kasus yang bisa divalidasi and yang lebih penting lagi, proof of blinding.

Tidak satupun dari 6 studi yang menyimpulkan ya memenuhi kriteria terakhir. Dengan demikian, hasil studi pun menjadi invalid. Adalah penting dalam setiap penelitian bahwa peserta studi tidak mengetahui apakah ia diberi Echinacea atau placebo, supaya ia tidak mempunyai bias yang bisa menyetir riset ke arah yang salah.

Dalam studi Echinacea konsep blinding ini penting karena Echinacea mempunyai rasa pahit yang unik meskipun dalam bentuk tablet sehingga peserta studi bisa membedakannya dari placebo. Untuk berita selengkapnya, anda bisa mengaksesnya di http://news-service.stanford.edu…

0 Responses to “Echinacea Tidak Terbukti Berperan Menyembuhkan Flu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




IP

Jakarta

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 451,463 hits

%d bloggers like this: