Mengenal Biodiesel

BBM yang berasal dari fosil memang makin lama makin tipis. Energi alternatif mulai banyak dikembangkan, termasuk di Indonesia. Indonesia yang negara luas dan berada di iklim tropis mempunyai keuntungan besar memanfaatkan potensi energi dari tanaman dan ternak, atau yang dikenal sebagai bioenergi.

Apa saja yang tergolong bioenergi? Ada beberapa jenis bioenergi, yakni : biodiesel, bioetanol, biogas, Pure Plant Oil (PPO), biobriket, bio-oil. Energi dari tanaman dan hewan inilah salah satu penyebab makin naiknya harga-harga hasil bumi (seperti kedelai, gandum, dll) karena sebagian digunakan untuk membuat bioenergi.

Dalam warta kali ini, aku ingin uraian dengan singkat mengenai biodiesel.

Biodiesel akhir-akhir ini lumayan populer di Indonesia. Di beberapa pompa bensin (terutama di Jakarta) sudah dapat dibeli bahan bakar biodiesel ini.

Awalnya aku mengira istilah biodiesel ini campuran antara diesel dengan bahan dari biologi. Namun ternyata keliru. Biodiesel adalah bahan bakar yang murni dari alam, meskipun bisa juga dicampur dengan diesel. Karena sebenarnya biodiesel ini adalah bahan bakar alternatif untuk pengganti diesel.

Biodiesel sendiri adalah bahan bakar nabati yang terbuat dari minyak nabati, baik itu minyak baru maupun bekas penggorengan. Minyak tersebut mesti melalui proses terdahulu, yang disebut transesterifikasi dan esterifikasi.

Biodiesel ini dapat digunakan 100% untuk pengganti diesel pada kendaraan bermesin diesel, atau sering disebut B100. Tapi bisa juga dicampur dengan diesel, tergantung berapa besar prosentasenya. Bila biodiesel 10% dan diesel 90%, maka bahan ini disebut B10.

Setahuku biodiesel yang dijual di pompa-pompa bensin, masih berupa biodiesel campur diesel. Tapi berapa campurannya, kurang tahu. Pemakaian biodiesel murni 100%, pernah diujicobakan dengan sukses, lewat perjalanan mobil dari Flores ke Jakarta, yang salah satu sponsornya adalah harian Kompas.

Di atas dikatakan biodiesel berasal dari minyak nabati. Minyak nabati ini dapat berasal dari banyak jenis tanaman. Tanaman yang pernah diteliti adalah : jarak, kapas, wijen, kacang kedelai, biji matahari, biji opium, kelapa, kelapa sawit, dll. Namun yang tanaman yang cukup tinggi menghasilkan minyak nabati dan mudah ditemui di Indonesia adalah kelapa, kelapa sawit dan jarak. Ketiga tanaman ini menghasilkan minyak nabati di atas 1.600 liter / hektarnya.

Dari ketiganya, minyak sawitlah yang paling produktif menghasilkan minyak nabati. Kelapa sawit dapat menghasilkan 5.950 liter minyak/ha/tahun. Kelapa sebanyak 2.689 liter minyak/ha/tahun dan biji jarak 1.892 liter minyak/ha/tahun.

Namun nampaknya tanaman jaraklah yang akan dibudidayakan oleh pemerintah untuk menghasilkan biodiesel ini. Karena kelebihan jarak adalah tanaman yang bisa tumbuh daerah-daerah gersang dan tandus. Sehingga lahan-lahan tandus yang nganggur bisa dimanfaatkan. Di propinsi NTT dan NTB yang banyak lahan kering, sekarang mulai banyak lembaga yang membudidayakan kembali tanaman jarak ini. Aku tulis ‘dibudidayakan kembali’, karena dulu masa penjajahan Jepang, penduduk Jawa dipaksa menanam jarak ini, yang minyaknya diambil Jepang untuk keperluan perang.

Sedangkan kelapa sawit sebagai bahan bakar biodiesel, nampaknya tidak banyak yang melirik. Mungkin karena nilai ekonomisnya akan lebih nyata dan besar bila diolah menjadi CPO (crude palm oil) atau menjadi minyak goreng yang biasa kita temui di supermarket. Indonesia adalah salah satu negara terbesar di dunia yang mengekspor minyak sawit , selaian Malaysia. Sayangnya, perluasan lahan sawit ini seringkali menimbulkan masalah lingkungan, seperti penggundulan hutan di Riau dan Kalimantan.

Kalau kelapa, mungkin ekonomis juga bila dibudidayakan sebagai sumber bahan biodiesel. Tapi sampai saat ini belum terdengar kabar, ada lembaga yang membudidayakan kelapa untuk keperluan biodiesel.

Selain dari pengolahan tanaman langsung, biodiesel ini bisa diperoleh dari minyak jelantah, atau minyak dari sisa penggorengan. Minyak goreng yang berasal dari minyak sawit atau minyak kelapa, bila setelah digunakan akan berubah bentuk menjadi coklat kehitaman, yang semestinya tidak dipergunakan lagi untuk menggoreng. Nah, limbah sisanya ini ternyata bisa dimanfaatkan untuk menjadi biodiesel.

Menurut data Departemen Perindustrian pada tahun 2005, produksi minyak goreng di Indonesia adalah 6,43 juta ton. Seandainya sebagian besar minyak goreng itu digunakan dan menjadi minyak jelantah, maka kita punya potensi besar mengolah kembali menjadi biodiesel.

sumber dari buku : Bioenergi

0 Responses to “Mengenal Biodiesel”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




IP

Jakarta

March 2008
M T W T F S S
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • None

Blog Stats

  • 451,470 hits

%d bloggers like this: