Dilema Otonomi Teknologi

Teknologi memiliki otonomi-nya sendiri, disebut otonomi teknik, teknologi dapat berdiri, berkembang, dan memiliki kandungan potensi untuk mempengaruhi pengguna masuk ke dalam mekanisme yang ada padanya hingga menciptakan bentuk-bentuk ketentuan baru (misal: Teknik transportasi menciptakan iklim jadwal bagi pemakai jasanya).

Maka, oleh potensi otonomi yang mampu mengkondisikan penggunanya, proses (perkembangan) teknologi menciptakan kebutuhan manusia sejauh radius pengkondisian teknologi yang bersangkutan. Begitu teknologi diciptakan, maka suatu struktur permintaan yang berangkat akan terbentuk: dibutuhkan suku cadang, pengetahuan dan ketrampilan, serta teknologi baru. Artinya, kebutuhan2 yang muncul akibat efek teknologi berjalan dalam koridor relasi manusia dengan teknologi tersebut.

Sebagai misal, 1) untuk menjawab tantangan global maka sistem pengajaran disusun, standar pendidikan ditingkatkan, kaderisasi pengajaran., 2) Ketika Transjakarta muncul lantas diperlukan tenaga supir, keamanan, sirkulasi karcis, hingga penambahan koridor baru. Dengan demikian teknologi menciptakan ketergantungan berefek.

Karena otonominya lantas teknologi berdiri di luar manusia. Kemampuan teknologi untuk berkembang, semakin lengkap, universal, dan membuat ‘haus’ manusia, teknologi membangun sistem baru yang menuntut cara berpikir dan cara bertindak tertentu. Artinya, setiap perkembangan mengandaikan perimbangan dan perimbangan menuntut penyesuaian. Dari sini, pelan2, teknologi menarik masyarakat (Masyarakat di sini berarti kesatuaan social tertentu yang terdiri dari individu-individu yang saling berhubungan dalam sebuah system yang mengaturnya) ke dalam sistem tersebut untuk berlaku menurut sistem yang ada padanya (reverse adaption),

Bebrapa contoh yang tampak di hadapan kita, antara lain:

a) Siaran sepak bola langsung dari Inggris di Indonesia membuat orang harus bangun dini hari, efeknya adalah kinerja kerja keesokan harinya (keadaan jelas berbeda dengan lingkungan geografis yang semakin dekat dengan tempat berlangsungnya pertandingan).

b) Polusi udara dari kendaraan bermotor/asap rokok lambat laun memunculkan undang-undang anti polusi (sebagai teknik kontrol atasnya) sehingga pemilik kendaraan bermotor:
Membeli kendaraan yang ramah lingkungan
Menguji emisi kendaraannya dan semakin perhatian dengan kesehatan dan kendaraan agar sesuai dengan aturan yang berlaku, atau
Mungkin semakin was-was dengan petugas tramtib (sebagai perwujudan teknik pengorganisasian polusi) ketika memilih tempat yang tepat untuk merokok

c) Teknologi komputer dan teknik informasi yang masuk dalam lingkungan industri dan perkantoran membuat orang giat untuk menyesuaikan kemampuannya secara formal/informal guna masuk dalam persaingan lowongan kerja dan memperoleh penghasilan.

Ini hanya beberapa contoh dari pengaruh atau dampak otonomi teknologi, yang sangat dilematis bagi manusia. Kita bisa mengkajinya lebih luas dan lebih dalam lantas menemukan dampaknya bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

0 Responses to “Dilema Otonomi Teknologi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




IP

Jakarta

March 2008
M T W T F S S
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Klik tertinggi

  • None

Blog Stats

  • 451,470 hits

%d bloggers like this: