Arsip untuk Kategori 'Tzu Chi'

Master Cheng Yen BerceritaBurung Berkepala Dua

Ada seekor burung berkepala dua. Diantara kedua kepalanya harus ada satu yang beristirahat (si tidur), satunya lagi tetap sadar dan berjaga jaga (si sadar).?
Salah satu dari kepalanya sangat suka tidur, maka seringkali kepala yang satunya lagi harus tetap dalam keadaan sadar dan waspada
Pada saat tibanya untuk makan, si sadar si tidur untuk makan bersama, setelah makan si tidur melanjutkan tidurnya kembali.
Dan si sadar itu pun juga tidak keberatan dan selalu berjaga-jaga. Pada suatu hari, si sadar berkata “Hei ! Saya sudah lelah dan ingin tidur, tugas berjaga-jaga diserahkan padamu!”
Lanjutkan membaca ‘Master Cheng Yen BerceritaBurung Berkepala Dua’

Master Cheng Yen Bercerita Raja Kera

Sekelompok kera bersama-sama pergi meninggalkan tempat tinggal mereka dan secara tidak sengaja memasuki kebun buah-buahan Kaisar. Bagaimana Raja Kera menyelamatkan mereka?

Pada suatu ketika, sekelompok kera tinggal jauh di dalam hutan di sebuah daerah pegunungan. Hutan itu menyediakan semua kebutuhan mereka; pohon-pohon yang menghasilkan berbagai jenis buah, hasil panen yang melimpah ruah, dan aliran sungai yang menyuburkan pegunungan. Musim yang berganti dengan teratur membuat tempat tinggal mereka terjaga dengan baik. Di bawah kepemimpinan Sang Raja Kera, para kera hidup bersama dengan damai dan harmonis.
Tapi pada suatu ketika, hujan berhenti turun. Musim berlalu tanpa ada perubahan, dan beberapa tahun kemudian, tempat tinggal mereka yang dulunya hijau subur berubah menjadi tandus kecoklatan. Hutan itu tidak lagi menghasilkan makanan yang cukup buat mereka. Merasa tidak ada pilihan, sekelompok kera pun memutuskan untuk keluar secara diam-diam dari tempat tinggal mereka untuk mencari makan.

Pada suatu hari, kera-kera itu sampai di sebuah kebun yang penuh dengan buah-buahan. Buah-buahan yang matang, segar dan ranum terlihat menggantung di setiap cabang pepohonan. Didorong oleh rasa lapar yang luar biasa, kera-kera itu berlarian menuju kebun buah dan memakan dengan lahap buah-buahan yang ada. Kera-kera itu tidak mengetahui bahwa itu adalah kebun buah kesayangan milik kaisar.
Lanjutkan membaca ‘Master Cheng Yen Bercerita Raja Kera’

Master Cheng Yen Bercerita MENYELAMATKAN BURUNG-BURUNG DENGAN KEBIJAKSANAAN

Suatu ketika, seekor raja burung memimpin rombongannya yang terdiri dari lima ratus ekor burung untuk mencari makanan di luar istana. Mereka tanpa sengaja terbang melewati batas dan memasuki kebun milik seorang kaisar. Mendengar bahwa lima ratus ekor burung sedang berkeliaran di kebunnya, Sang Kaisar berpikir hal ini pasti akan menjadi pemandangan yang menakjubkan. Lalu, ia pun memerintahkan para pelayannya untuk menebar jala di atas kebun untuk menangkap burung-burung tersebut ketika mereka akan terbang kembali.

Burung-burung itu tidak tahu bahwa kaisar sudah memerintahkan agar jala dipasang di sana. Oleh karenanya, ketika mereka terbang, semua burung tertangkap.Dengan gembira, Sang Kaisar memerintah para pelayannya untuk memberi makan burung-burung itu dengan beras setiap hari. “Jika mereka sudah cukup gemuk, masaklah mereka sehingga saya dapat menyiapkan pesta untuk semua menteri!” demikian titah Sang Kaisar.
Lanjutkan membaca ‘Master Cheng Yen Bercerita MENYELAMATKAN BURUNG-BURUNG DENGAN KEBIJAKSANAAN’

Master Cheng Yen Bercerita Satu Panah, Tiga Nyawa

Shan adalah seorang pemuda yang baik hati. Orang tuanya buta dan sudah tua. Agar kehidupan kedua orang tuanya lebih baik dan untuk menemukan tempat yang cocok untuk mengembangkan kehidupan spiritualnya, Shan membangun sebuah pondok beratap jerami di gunung dan mengajak mereka tinggal di sana. Ketiganya hidup dengan tenang dan bahagia.
Setiap hari, Shan membawa pulang buah-buahan dan sayuran untuk dimakan kedua orang tuanya. Selanjutnya, ia mengambil air dari sungai di dekat tempat tinggal mereka yang mengalir tiada henti serta menghidupi tumbuhan dan hewan yang tak terhitung banyaknya di hutan. Pada suatu hari, Shan seperti biasanya pergi ke sungai mengambil air. Dia memanjakan matanya dengan memandangi pepohonan dan padang rumput yang tumbuh subur di sekelilingnya, menghirup udara yang segar, dan mendengarkan kicauan burung yang merdu. Dia sangat mensyukuri berkah yang dihasilkan alam.
Lanjutkan membaca ‘Master Cheng Yen Bercerita Satu Panah, Tiga Nyawa’

Master Cheng Yen Bercerita Sang Pertapa dan Sang Raja

Dahulu kala ada seorang putra mahkota. Ia sangat akrab dengan adiknya. Setelah ayah mereka meninggal, masing-masing dari mereka menginginkan untuk menyerahkan kekuasaan kepada satu sama lain. Sang adik merasa kedewasaan kakaknya membuatnya pantas menjadi raja yang berkuasa, tetapi kakaknya ingin menyerahkan kekuasaannya sehingga ia dapat menjadi praktisi rohani.

Akhirnya, sang pangeran menyerahkan kekuasaannya kepada adiknya dan meninggalkan kota kerajaan. Meskipun isterinya tidak rela untuk menyerahkan kekuasaan dan kemewahan kehidupan kerajaan, namun ia tidak mempunyai pilihan, selan harus mengikuti suamnya. Mereka berkelana melewati gunung-gunung dan lembah-lembah dan akhrinya menetap di lembah pengunungan. Di sana mereka memulai hidup yang keras.
Lanjutkan membaca ‘Master Cheng Yen Bercerita Sang Pertapa dan Sang Raja’

Belajar Untuk Menyelamatkan Bumi

Minggu (16/08), Tzu Chi Medan mengadakan serangkaian acara penyuluhan dalam rangka Hari Pelestarian Lingkungan Tzu Chi. Pagi harinya, diadakan pelatihan bagi sekitar 90 relawan Tzu Chi, sebagian besar adalah relawan yang baru bergabung. Pelatihan ini bertujuan untuk membekali para relawan dengan pengetahuan tentang Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, sebelum nantinya mereka akan ikut melakukan penyuluhan ke dalam masyarakat luas. Pelatihan diisi dengan tayangan video ceramah Master Cheng Yen yang berjudul, “Air merupakan sumber kehidupan”, serta presentasi bertopik “Pemanasan Global” oleh Endang Kamal dan “Pengenalan Misi Pelestarian Lingkungan Tzu Chi” oleh Arifin Djaja.

Lanjutkan membaca ‘Belajar Untuk Menyelamatkan Bumi’

Semua pun Tersentuh

 Foto

* Isak tangis dan air mata Evi dan ibunya mengalir deras saat menyaksikan penggusuran rumah mereka.

Air mata mengucur deras dari kelopak mata Ulfa. Ia tak kuasa menahan derai air mata seusai menyaksikan episode pertama drama Kisah Sebening Kasih. Siang itu, tanggal 15 Februari 2008, seusai menunaikan ibadah salat Jumat, Ulfa bersama teman-teman SMK Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat, dengan didampingi oleh Eko Raharjo, guru mereka, menyaksikan episode pertama drama tersebut. Kegiatan menonton ini adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk mengisi kegiatan Rohani Islam (ROHIS) yang dilaksanakan setiap hari Jumat di SMK Cinta Kasih Tzu Chi.

“Evi Hermawati itu ga bergantung sama orangtua, mandiri dan tempatnya itu mengingatkan saya akan rumah saya yang dulu,” tutur Ulfa seraya terisak. Drama Kisah Sebening Kasih diangkat dari kisah nyata Evi Hermawati dan keluarganya yang digusur 12 kali karena tinggal di bantaran Kali Angke dan kini tinggal di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi. Kisah nyata itu kini diangkat ke layar kaca. Episode perdana ini bercerita tentang Evi yang sangat menginginkan sepeda, namun apa daya, jangankan untuk membeli sepeda, untuk membeli beras pun ibunya harus hutang di warung.

Lanjutkan membaca ‘Semua pun Tersentuh’

Menjadi Mata dan Telinga Master Cheng Yen

Foto

* Sebanyak 33 relawan mengikuti pelatihan pembicara Tzu Chi agar dapat mewariskan ajaran luhur Tzu Chi, menjadi mata dan telinga Master Cheng Yen.

Tzu Chi terus berkembang dan makin banyak orang tertarik untuk mengenal Tzu Chi, terlebih setelah DAAI TV mengudara di langit Indonesia, Tzu Chi menjadi memiliki akses yang tanpa batas untuk dikenali siapapun. Belum lagi terus berkembangnya media Tzu Chi lainnya dan semakin bertambahnya kegiatan. Oleh karena itu, jumlah relawan Tzu Chi yang memahami Tzu Chi dan mampu menjelaskannya dengan baik kepada orang lain. ¡§Bisa dibayangkan Tzu Chi akan makin banyak mengajak orang melangkah di jalan cinta kasih,¡¨ ujar Mario William dalam Pelatihan Pembicara Tzu Chi yang diadakan di kantor Yayasan Buddha Tzu Chi, Mangga Dua, Jakarta.

Meskipun akses untuk mengenali Tzu Chi makin terbuka luas, namun informasi yang bisa didapatkan tidak bisa secara menyeluruh sehingga tetap memerlukan relawan Tzu Chi untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Sayangnya, tidak banyak relawan Tzu Chi yang bisa melakukan hal tersebut dengan baik. Sifat dasar masyarakat Indonesia yang tertutup mungkin salah satu yang menyebabkan hal tersebut. Bahkan, beberapa orang menganggap dirinya tidak memiliki bakat untuk berbicara di depan orang lain sehingga membenarkan keadaan tersebut.  Lanjutkan membaca ‘Menjadi Mata dan Telinga Master Cheng Yen’

Berbuat Kebajikan Sedini Mungkin

 Foto

* Sejumlah 46 celengan diserahkan pada Tzu Chi oleh anak-anak Sekolah Minggu Dharma Jaya. Mereka mulai menabung sejak 4 bulan lalu untuk membantu orang yang membutuhkan.

Minggu siang, 24 Februari 2008 hujan deras mengguyur Vihara Dharma Jaya, Segitiga Senen, Jakarta Pusat. Relawan Tzu Chi Xie Li 10, He Qi Utara duduk berkeliling di ruang kebaktian kecil. Bunyi denting uang logam atau gemersik uang kertas berulang kali terdengar ditingkahi bunyi rintik hujan. Para relawan rupanya sedang menghitung uang dari 46 celengan yang diserahkan anak-anak Sekolah Minggu vihara ini. Deretan uang yang telah dirapikan mereka sisihkan dan dihitung. Nominal uang yang dibawa pulang mencapai 7 digit angka

Dana kemanusiaan yang diterima Tzu Chi ini merupakan persembahan dari hati-hati kecil yang masih polos. Untuk membantu orang miskin, demikian ucap anak-anak itu menjelaskan niat mereka mengumpulkan uang. Sudah 4 bulan ini, mereka mengumpulkan butir demi butir cinta kasih mereka ke dalam celengan yang dibagikan oleh guru Sekolah Minggu. Tak terkecuali, sebagian uang ang pau yang diterima, juga masuk ke dalam lubang kecil celengan berbentuk hewan tersebut. Dalam salah satu celengan, setiap uang kertasnya terlipat membentuk segitiga, membuat relawan yang merapikan harus membuka kembali lipatan itu satu per satu. Lipatan itu mewakili kesungguhan hati anak yang menyumbangkannya.

Lanjutkan membaca ‘Berbuat Kebajikan Sedini Mungkin’

Misi Kesehatan

Pada saat kita jatuh sakit,
Siapa yang bisa merawat kita dengan kelembutan?
Di waktu kita menderita cacat,
Siapa yang dapat menerima kita dengan penuh keyakinan?

Organisasi TIMA (Tzu Chi International Medical Association) yang sebagai pendukung misi pengobatan telah menetapkan tempat tertentu untuk mengadakan pengobatan keliling secara rutin bagi penduduk daerah dan kepulauan yang terpencil dengan tujuan agar dapat mengoptimalkan pelayanan yang lebih baik, disamping itu, tenaga medis bersangkutan akan mengadakan pelayanan [kunjungan pemeriksaan] yang berhubungan dengan memberi perhatian ke rumah bagi keluarga yang masih dalam perawatan, pasien yang tidak leluasa berjalan dan penderita yang masuk dalam daftar penyelidikan karena absen menjalani pengobatannya. Selama ini, kegiatan memberi perhatian kepada para tuna karya dan penduduk asli di perkotaan serta terhadap pengobatan kepada para lanjut usia di Panti Jompo Ren Ai tak pernah terabaikan seharipun.
Lanjutkan membaca ‘Misi Kesehatan’

Bantuan Bencana Internasional

Sejak pertama kali Yayasan Tzu Chi memberikan pertolongan ke Banglades saat negara tersebut sedang dilanda banjir besar pada tahun 1991, Tzu Chi telah memulai langkah pertamanya pada jalur bantuan bencana berskala internasional, hingga kini jangkauan negara-negara atau daerah yang menerima penyaluran bantuan telah meluas di seluruh pelosok dunia, meliputi: Mongolia, Nepal, Muangthai, Kamboja, Afganistan, Korea Utara, Chechnya, Azerbaijan, Kosovo, Turki, Ethiopia, Rwanda, Ivory Coast, Papua Nugini, Kolombia, Peru, Dominika, Honduras dan Irak. Masing-masing Cabang Yayasan Tzu Chi di luar negeri bersama insan Tzu Chi pusat juga berpartisipasi dan bersumbangsih bersama-sama dengan antusias.
Lanjutkan membaca ‘Bantuan Bencana Internasional’

Pelestarian Lingkungan

Sejak tahun 1990, sewaktu Master berada di suatu Diskusi Panel tentang kehidupan yang bahagia, beliau menghimbau untuk memulai [Melalukan Kegiatan Pelestarian Dengan Kedua Tangan Kita] sendiri, selama puluhan tahun ini, motivasi dan ketetapan hati dari insan Tzu Chi dalam segala upaya kegiatan pelestarian tidak sia-sia.
Lanjutkan membaca ‘Pelestarian Lingkungan’

Pendiri Tzu Chi

 

Master Chengyen dilahirkan pada tanggal 4 Mei 1937 (Imlek jatuh pada tanggal 24 Bulan 3), di Desa Qingsui, Kabupaten Taichung, Taiwan. Sewaktu masih kecil beliau diangkat pamannya jadi anak dan mengikuti paman beserta tante yang sebagai orangtua asuhnya pindah menetap di Desa Fengyuan, Kabupaten Taichung. Berhubung Ayahnya menjalankan usaha dalam bidang bioskop di beberapa kota seperti: Taichung; Fengyuan; Qingshui; Tanzi dan lain tempatnya, ditambah memang bawaan sifatnya cerdas, lagi pula sebagai putri sulung, maka belum genap usianya 20 tahun, beliau sudah sanggup membantu menjalankan tugas pekerjaan Ayahnya, disamping membantu mengurus pekerjaan rumah-tangga. Lanjutkan membaca ‘Pendiri Tzu Chi’

Sejarah Tzu Chi

Suatu hari di tahun 1966, Master bersama beberapa pengikut datang ke suatu Balai Pengobatan di Fenglin untuk mengunjungi seorang umat yang menjalani operasi akibat pendarahan lambung. Ketika keluar dari kamar pasien, beliau melihat bercak darah di atas lantai tetapi tidak tampak adanya pasien, setelah mencari informasinya baru diketahui seorang wanita penduduk asli asal gunung Fengbin keguguran, berhubung tidak mampu membayar NT$ 8,000 (lihat catatan di bawah), maka tidak bisa berobat dan terpaksa dibawa pulang kembali. Mendengar penuturan itu, perasaan Master sangatlah terguncang, seketika itu beliau memutuskan hendak berusaha mengumpulkan dana sosial untuk menolong orang dan menyumbangkan semua kemampuan yang ada padanya untuk menolong saudara-saudari yang menderita sakit dan kemiskinan di bagian Timur. Dengan demikian niat membentuk [Perhimpunan Bhakti Amal Tzu Chi] mulai berakar dan bertunas serta tumbuh di dalam lubuk hati Master.

Lanjutkan membaca ‘Sejarah Tzu Chi’

Misi Kemanusiaan

Menyalakan pelita di pelosok yang paling gelap;

Membuat api membara di perjalanan yang paling dingin,
Izinkan kami
menghapuskan air mata kesedihan dan penderitaan manusia,
serta menberikan pakaian hangat untuk semua makhluk di dunia ini.

Insan Tzu Chi di luar negeri berteguh hati pada [mengambil dari setempat dan dikembalikan untuk setempat] dibawah prinsip [Lebih mandiri dan meningkatkan sumber daya manusia setempat], Tzu Chi menyebarluaskan ke 5 benua besar dan 38 negara serta berkantor sebanyak 183 cabang beserta kantor penghubungnya, semuanya melangkah dengan derap kaki sejalan dengan yang ada di Taiwan untuk melancarkan kegiatan bantuan sosial, termasuk membagikan bantuan kepada keluarga penerima bantuan dalam waktu jangka panjang, mengunjungi Panti Asuhan, Panti Jompo, Balai Rehabilitasi Tuna Grahita, Pusat Penampungan Penderita Aids. Sedangkan pertolongan korban bencana dan musibah ditangani sesegera mungkin, tujuan utama ialah tidak membedakan suku bangsa, warna kulit, rumpun bahasa dan agama agar secepatnya mengentaskan semua orang dari penderitaan dan dapat hidup tenang, aman dan tenteram.

Lanjutkan membaca ‘Misi Kemanusiaan’

Tentang Tzu Chi

Menebarkan Cinta Kasih Universal di Dunia
DUNIA TZU CHI MASTER CHENG YEN

Dengan berpegang teguh pada semangat [ Kebersamaan dalam sepenanggungan dan sependeritaan ] dari Sang Buddha, Tzu Chi menjalankan bakti sosialnya selama 38 tahun. Tzu Chi bagaikan samudera luas yang mampu menampung seluruh aliran anak sungai, semua orang dengan usia, pengetahuan, profesi, dan latar-belakang yang berbeda dapat membuktikan kekuatan dari [ Sirkulasi Kebajikan ], dapat ikut bergabung ke dalam barisan [ Penyumbangan Kasih Sayang ], dan merasakan kepuasan dari implementasi sikap [ Melakukan dengan ikhlas dan Menerima dengan Suka-cita]. Baik yang berada di setiap pelosok Taiwan, atau yang berada di kediamannya diluar negeri, semua insan Tzu Chi selalu dengan senang hati dan tanpa menyesal, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pemberian bantuan kemiskinan dan darurat, perlindungan kesehatan, memperkokoh dasar pendidikan dan kegiatan sosial budaya.

Lanjutkan membaca ‘Tentang Tzu Chi’


IP

Jakarta

 

Desember 2009
S S R K J S M
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Image Hosting by Picoodle.com

a

Blog Stats

  • 199,375 hits