Kenali Kosmetik Anda

Berikut adalah beberapa istilah yang (mungkin) sudah umum dikenal konsumen, tapi tahukah anda apa yang dimaksud?
Kosmetik

Ini tentu yang paling penting, karena menjadi subyek pembicaraan. Menurut Sec. 201(i) FD&C Act, kosmetik adalah:

Produk, terkecuali sabun, yang dimaksudkan (intended) untuk dipaparkan ke tubuh manusia dengan tujuan membersihkan, mempercantik (beautify), meningkatkan daya tarik, atau memperbaiki (alter) penampilan.

Intended sendiri menurut definisi hukumnya adalah penggunaan yang didasarkan/terbatas pada pernyataan/petunjuk pemakaian di label produk. Sedangkan label didefinisikan sebagai informasi yang ditampilkan dalam bentuk tulisan atau gambar.

Jadi, kosmetik hanya boleh mempengaruhi tubuh manusia sebatas fisik, bukan kejiwaan. Lebih jauh lagi, ini berarti kosmetik tidak boleh memberi klaim ‘terapi’ seperti ditawarkan oleh produk-produk yang mengandung bahan untuk ‘terapi aroma/bau-bauan’.

Satu produk lokal beriklan dengan ‘membantu mengatasi suasana hati’. Kata ‘membantu’ ini memperlunak klaim, seperti klaim suplemen ‘membantu menjaga daya tahan tubuh’. Harus diperlunak, karena selain obat, tidak boleh memberi klaim yang ‘memastikan’ hasil.

Ada saat ketika kosmetik juga adalah obat, yaitu:

Ketika produk dimaksudkan untuk membersihkan, mempercantik, atau meningkatkan daya tarik SERTA (as well as) merawat atau mencegah suatu penyakit, atau mempengaruhi struktur atau fungsi manapun dari tubuh manusia.

Definisinya aja udah ribet :p Dan produk ini sudah tentu dalam pengawasan yang setara dengan obat-obatan.
Hypoallergenic

Tidak ada standar atau definisi yang mengatur penggunaan istilah hypoallergenic. Istilah ini bisa berarti APAPUN, sesuai yang diinginkan oleh pembuat produk. Pengertian yang ditawarkan produsen satu bisa berbeda dengan produsen lain.

Istilah tersebut mungkin memiliki nilai pasar tertentu, berkaitan dengan promosi bagi konsumen yang mencari produk dengan risiko pencetus alergi yang rendah. Nyatanya, dermatolog berpendapat istilah tersebut nyaris tak berarti.
Not tested on animals

Banyak bahan mentah yang digunakan kosmetik telah diujikan pada hewan, bertahun-tahun lalu saat bahan tersebut diperkenalkan. Jika hasil ujinya menyatakan bahan tersebut aman dan efektif untuk dipakai manusia, uji -mungkin- tidak perlu digelar lagi. (Kecuali pada saat tertentu, ketika muncul dampak di luar yang telah diketahui, sehingga bahan tersebut perlu diuji ulang)

Kini, produsen kosmetik bisa saja (belum tentu ‘pasti’ atau ‘semua’) hanya menggunakan bahan mentah tersebut dan mendasarkan klaim ‘not tested on animals’ pada fakta bahwa bahan atau produk buatannya SEKARANG tidak diujikan pada hewan.

Ternyata ini masalah grammar saja :D

Keren! Begitu dulu pikir saya. Sekarang, ketika saya menjadi lebih skeptis, kalau tidak ke hewan berarti ke manusia dong? Ya, memang begitu kenyataannya.

Diskusi/debat moral tentang uji pada hewan ini terus berlangsung hingga sekarang. Tidak hanya uji produk kosmetik, tapi juga uji obat-obatan. Tidak ada penjelasan yang bisa memperhalus ‘penganiayaan terhadap hewan demi kepentingan manusia’.

Bagaimanapun, pandangan seseorang bisa berubah apabila uji pada hewan -yang semula ditentangnya sebagai tindakan amoral- memberikan hasil berupa obat yang dapat menyelamatkan jiwanya. Dan ini benar-benar terjadi. Kita simpan saja bahasan moral ini di lain tempat. Bukan ini topik pembicaraannya.
Alcohol-free

Dalam pelabelan kosmetik, istilah ‘alkohol’ (jika berdiri sendiri tanpa kata penyerta yang lain) mengacu pada etil alkohol. Produk kosmetik, termasuk yang berlabel alcohol-free, bisa saja mengandung alkohol jenis lain, seperti cetyl, stearyl, cetearyl, atau lanolin alkohol.

Alkohol-alkohol tersebut dikenal sebagai alkohol lemak (fatty alcohols, lemak yang mengandung gugus -OH), dan dampaknya terhadap kulit agak berbeda dibandingkan etil alkohol.

Untuk mencegah etil alkohol dalam suatu produk kosmetik dialihkan secara ilegal dan digunakan sebagai minuman beralkohol, alkohol akan didenaturasi. Alkohol ini ditambahi denaturan yang membuatnya tidak dapat diminum (bisa saja sih, tapi fatal akibatnya :p ).

Alkohol terdenaturasi ini akan muncul di label ‘kandungan’ sebagai SD, yaitu specially denaturated. Atau untuk negara-negara Eropa, jenis alkohol terdenaturasi ini akan diberi tambahan keterangan ‘(alcohol denat.)’ di belakangnya. Misalnya SD Alcohol-40 (Alcohol Denat.)

Istilah-istilah kimia memang cenderung menyesatkan yang ‘lugu’ (baca: melek kimia organik).
Dermatologist/dermatologically tested

Ini hampir mirip dengan ‘hypoallergenic’. Pertanyaan yang muncul adalah:
Dermatolog yang mana? Independen atau bekerja untuk produsen kosmetik yang bersangkutan?
Uji yang dipakai itu uji apa? Apakah sama dengan uji klinis?
Hasil ujinya bagaimana? Keamanan, efektivitas, dan buktinya?
Dermatolog itu orangnya, dermatologi itu -mungkin- ilmu tentang kulit, lalu dermatologically? Secara dermatologi? Secara keilmuan? Menurut teori? Jadi diujinya dengan teori? Hasilnya teori juga dong ya?

*ini yang paling tidak saya mengerti*

Pernahkah anda perhatikan kalimat yang tertulis dalam huruf-huruf amat kecil (dan muncul hanya dalam waktu singkat di iklan televisi) saat iklan ditayangkan? Di sanalah informasi yang paling ‘benar’ yang bisa anda harapkan dari iklan.

82% lebih putih, dan berdasarkan penilaian pribadi -kata kalimat dalam huruf kecil itu. Astaga, hebat benar para relawan uji. Bisa menjabarkan penilaian pribadi dalam persen yang tidak ‘bulat’, tidak seperti ‘1,5 atau 2 kali’ lebih putih :D

Yang paling penting, tentu saja bahwa penilaian pribadi belum tentu sejalan dengan bukti ilmiah. Anda bilang ‘Saya merasa lebih segar’, sementara uji terhadap tubuh anda mengatakan tidak ada yang berubah dari kondisi sebelumnya.

Seperti pernah disinggung sebelumnya, kosmetik tidak melewati standar uji yang sama dengan obat. Karena tidak mutlak bersandar pada prinsip EBM (Evidence Based Medicine) -tentu saja, sebab kosmetik bukan obat- maka bisa diharapkan bahwa kebanyakan uji yang dilakukan bukanlah uji klinis.

Lalu ‘uji klinis’ seperti apa yang dilakukan oleh produsen yang mengklaim bahwa produk tersebut telah menjalani uji klinis? Saya rasa untuk klaim ini kita hanya dapat percaya dan berbaik sangka, bahwa walaupun tidak diwajibkan, produsen rela berpayah-payah menjalankan uji klinis setara obat yang merepotkan itu. Rela? Oh tentu saja dengan harga produk yang sepadan :)

Tulisan tentang klaim ini juga bisa disimak di sini.
Sabun (soap)

Siapa sangka kata ‘sabun’ memiliki penjabaran yang tidak sederhana. FDA mendefinisikan sabun sebagai produk yang mengandung bahan non-volatil (tidak menguap) berupa garam alkali dari suatu asam lemak.

Klaim yang boleh dibuat oleh sabun hanya untuk membersihkan (cleansing). Sabun ‘sejati’ -di Amerika Serikat- dipasarkan di bawah aturan Consumer Product Safety Commission (CPSC), bukan FDA, dan tidak memerlukan label ‘kandungan’ (ingredient).

Pada jaman dahulu (kala, ketika… ) orang-orang membuat sendiri sabun dari lemak hewan dan abu kayu. Masa kini, hanya ada sangat sedikit sabun ‘sejati’ -sesuai pengertian asalnya- di pasar.

Kebanyakan pembersih tubuh saat ini sebenarnya adalah produk deterjen sintetik (cair maupun padat). Pembersih dengan deterjen ini terkenal karena mudah berbusa dalam air dan tidak membentuk endapan (gummy material, nampak sebagai ‘cincin’ di mulut saluran pembuangan bathtub). Beberapa produk deterjen ini dipasarkan sebagai ‘sabun’, tapi tidak dalam pengertian/definisi asli sabun.

Apabila sebuah produk sabun ‘sejati’ atau pembersih membuat klaim ‘kosmetikal (seperti dijabarkan pada definisi kosmetik)’ seperti ‘melembapkan’ atau ‘menghilangkan bau badan’, produk ini harus memenuhi syarat standar FDA untuk kosmetik dan labelnya harus mencantumkan semua bahan yang dikandungnya.

Sedangkan jika produk sabun atau pembersih tersebut membuat klaim yang bersifat mengobati -seperti anti bakteri, anti perspirant, anti jerawat, menyembuhkan ketombe-, berarti produk tersebut adalah obat. Dengan begitu labelnya harus memberi keterangan semua bahan aktif yang digunakan dan memenuhi syarat keefektifan, seperti yang berlaku pada setiap produk obat.

Bagaimana mengenali produk sebagai sabun atau bukan? Mudah saja. Apabila suatu produk tidak ‘memproklamasikan’ diri sebagai sabun, maka mungkin produk tersebut termasuk deterjen sintetik. All that lathers is not soap. Yang busanya melimpah, itu bukan sabun.

Jika anda mengalami iritasi setelah memakai suatu produk pembersih, bisa saja penyebabnya adalah deterjen sintetik yang dikandungnya. Pencetus alergi lainnya adalah parfum, pewarna, atau bahan tambahan lain.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




IP

Jakarta

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Blog Stats

  • 417,218 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: